Salam Beta

MIMPI KE LANGIT

In Rumah Baca on 4 May 2012 at 20:57

Doli menatap hamparan laut yang luas dengan buih-buih putih di pantai itu. Seputih tubuh bagian depannya, namun tidak dengan punggung dan semua sisi kulitnya yang hitam legam. Selarik warna kuning di lehernya, sedikit memberikan kesan cantik bagi tubuh tambunnya dengan sirip kecil yang tanggung. Kawan-kawan menyebutnya ‘Pinguin’.

Tiba-tiba dua ekor camar menukik turun dari langit biru, menembus gumpalan awan putih. Gerakannya begitu indah dengan kepakan sayap cantik yang luar biasa. Doli menikmati gerakan mereka.

Tiba-tiba ia teringat percakapan dengan ibunya. Percakapan saat ia kecil dan pertama kali melihat camar berburu ikan.

“Bu, mengapa camar itu bisa terbang? Apakah ia warga langit?” tanya Doli.

Ibunya tertawa riang sambil memandang gumpalan awan putih.

 “Bisa iya, juga bisa tidak.” Ibu menjawab dengan senyum khasnya.

“Kok begitu, Bu? Kenapa?” Tanya Doli tak puas.

“Camar itu warga bumi juga, sama seperti kita. Tetapi mereka selalu bermain di udara. Seperti kita yang suka bermain di air,” ungkap ibunya dengan wajah tenang.

“Wah, kelihatannya seru ya? Apakah Ibu tahu ada apa di langit sana?” Tanya Doli lagi.

“Ibu tidak tahu, sayang …  kata Pak Tetua, di sana kau bisa melihat semua warna. Semua yang tidak ada di sini. Kau bisa melihat dunia lepas, sayang …” jelas ibu Doli sabar.

 “Apa Ibu pernah ke sana?” Doli terus mengejar ibunya dengan berbagai pertanyaan.

 “Owh … belum, sayang… kita kan tidak bisa terbang, tapi kita bisa berenang” ujar ibu Doli dengan sabar menjelaskan.

 “Aku akan membawa Ibu terbang ke sana suatu hari nanti…” janji Doli mantap.

 “Tidak, sayang … itu hal yang mustahil. Kita hanya pinguin, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa terbang …” jawab ibu Doli dengan nada prihatin.

Doli masih memperhatikan gerak-gerik dua camar itu. Sesekali Doli memandang sayapnya. Sangat mungil, mungkin ibu benar bahwa pinguin tak mampu terbang.

Camar itu sungguh menawan, sayapnya mampu membentang lebar, kepakannya mampu membawa tubuhnya sampai ujung langit. Doli pun mencoba mengepakkan sirip kecilnya mengikuti gerakan kedua camar itu, namun ia tetap diam di tempat, tak mampu mengangkat tubuhnya sedikitpun.

Tiba-tiba salah satu camar itu mendekati Doli, kemudian menyapanya dengan senyuman manis.

“Hai, kau sedang apa? Tingkahmu itu lucu sekali, hihihi…” ujar camar itu.

“A … aku sedang mengikuti gaya terbangmu, supaya aku bisa terbang ke langit biru. Seperti kalian berdua …” jawab Doli bersemangat sambil mengepakan siripnya kembali.

Sreekk!

Camar satunya pun mendekati Doli. Tapi wajahnya kelihatan tidak suka. Meskipun begitu Doli tetap menyambutnya dengan ramah.

“Hai, namaku Doli. Salam kenal…,” ucap Doli sambil mengulurkan siripnya.

“Oh, jadi namamu Doli, ya… aku Cami…,” sambut camar dengan senyum manis itu, mendahului camar berwajah cemberut.

Tiba-tiba uluran tangan Cami ditepis camar bermuka cemberut itu. Cami jadi merasa tak enak hati pada Doli. Tetapi Doli tetap tersenyum sambil menarik siripnya kembali.

“Mhh … i … ini kawan mainku, namanya Camu …” seru Cami lagi dengan wajah tak enak.

“Heh, kenapa kamu menyebutkan namaku? Aku kan belum menyetujui perkenalan ini? Lagi pula aku tidak suka dengan makhluk air! Makhluk air itu lebih asyik kalau kita makan! Begitu kata ayahku!” tandas Camu.

Doli terdiam menunggu jawaban Cami. Sementara wajah Camu kelihatan berbinar-binar setelah ia lama memperhatikan bentuk tubuh Doli yang baginya kelihatan aneh. Rupanya Camu tengah memikirkan sesuatu untuk mengerjai Doli.

“Hei, Doli! Kau ingin terbang seperti kami ya?” Tanya Camu congkak.

“Iya, apa kau bisa membantuku?” tanya Doli lugu

“Itu urusan sepele! Kau lihat tebing tinggi itu. Kita harus ke sana, kau akan kulatih terbang dari sana. Bagaimana? Apa kau mau?” tantang Camu.

 “Baiklah … ayo!!” seru Doli penuh semangat.

Cami kaget mendengar usulan Camu. Mana mungkin sirip kecil Pinguin mampu membuatnya terbang ke angkasa.

Cami mendadak khawatir. Ia curiga Camu merencanakan sesuatu yang buruk pada Doli. Cami sangat memahami sifat jahat Camu. Tapi Cami tidak bisa mencegahnya karena Doli terlanjur menuruti apa kata Camu. Sepertinya ia terlanjur percaya pada Camu.

Di tepian tebing tinggi yang menjorok ke lautan. Camu, Cami dan Doli berdiri menantang lautan. Sekalipun Doli penyelam yang hebat, tetapi ia baru pertama kali bisa berdiri di tebing yang begitu tinggi. Meskipun rasa takut untuk melompatinya mengganggu tekadnya, tetapi Doli berusaha percaya kalau ia bisa terbang jika dimulai dari tebing yang tinggi.

“Hei, Doli … ayo kau taklukkan tebing ini dengan sayap kerenmu! Coba angkat tubuhmu!” tantang Camu sambil tersenyum licik.

“Tapi… Doli kan pe… perenang… itu bukan sayap! Ta… tapi sirip…” ujar Cami

“Hahaha … jika kau menginginkan sesuatu, maka harus kau coba dulu … baru kau akan mengetahui hasilnya …” jawab Camu dengan gaya congkaknya.

Doli jadi bingung untuk memulainya. Tapi Camu benar, jika tidak dicoba, maka ia tidak akan pernah tahu hasilnya.

“Hei, sudahlah … aku sudah siap untuk terbang …” sela Doli.

Camu dan Cami berhenti berdebat. Keduanya mengawasi Doli yang sudah siap dengan ancang-ancangnya. Air laut yang memecah karang kelihatan berbuih laksana gumpalan awan yang pecah. Sangat indah. Doli memandang lautan dengan perasaan gentar. Bagi Doli, jatuh bukanlah masalah karena dia seorang penguin, yang tentu saja bisa berenang. Tapi menyelam dengan ketinggian seperti ini belum pernah dilakukan Doli. Doli menghela napasnya pelan-pelan sambil memejamkan mata.

“Bisa! Aku pasti bisa!” gumam Doli pada dirinya sendiri. Dan Doli mulai menghitung untuk memulai terbang.

Doli berusaha sekuat tenaga untuk terbang, tetapi tubuhnya tetap diam sekalipun ia sudah berusaha. Saat Doli sedang bersusah payah untuk mengangkat tubuhnya, Camu berteriak.

“Mangsaaaa!…” pekik Camu sambil melongok ke bawah tebing, ke arah lautan lepas.

Tanpa menunggu aksi Doli, Camu sudah meluncur terbang ke bawah tebing, sayangnya segerombol ombak bvesar yang tiba-tiba datang menyambar sayap Camu hingga ia terseret air laut dan jatuh ke perairan tanpa mampu mengankat tubuh basahnya lagi. Cami dan Dan Doli terpekik melihat kejadian itu.

“Camuuu…!!”

Cami syok. Ia tak berani turun ke bawah, namun Doli si perenang handal yang mencoba terbang itu langsung mengangkat tubuhnya dengan nekat. Mencoba menggapai udara, meski pada akhirnya tubuh tambunnya malah jetuh ke perairan di bawah tebing itu. Tetapi itu bukan masalahnya, karena ia perenang handal.

“Aaaaarrghh …!!!” teriak Camu yang sesekali tersembul ke permukaan.

Baaamm …!

Doli sudah jatuh ke air, segera mengejar tubuh Camu.

“Doliii …! Camu …!” teriak Cami dari atas karang.

Pyaaakk!

Doli keluar sambil menyeret sayap Camu yang lemah dan basah karena air. Rupanya Doli baru saja menyelamatkan Camu yang tak bisa berenang di dalam air. Doli menyeret Camu hingga ke tepian pantai.

Camu selamat dengan kondisinya yang payah

“Camuuu… Doliii… kalian tidak apa-apa, kan?” seru Cami penuh mendatangi keduanya.

Doli tersenyum lalu menggeleng. Lalu menatap tubuh letih Camu yang basah kuyup.

Camu terbatuk-batuk, dia memandangi Doli dengan perasaan malu, “Maafkan aku, Doli… untung ada kau. Padahal aku mengusilimu dengan menantangmu terbang. Meski kau tak bisa terbang, tapi kau perenang yang hebat. Uhukk … uhukk …” kata Camu dengan perasaan menyesal.

“Ah, sudahlah… yang penting kau selamat!” seru Doli tersenyum.

“Sepertinya Camu sudah mendapatkan pelajaran berharga hari ini. Sini, biar kubantu!…” seru Cami sambil menyambut tubuh Camu yang basah kuyup.

“Aku muali mengerti kenapa aku diberikan sirip dan tinggal di tepi lautan. Sepertinya Tuhan mentakdirkan aku untuk menjaga lautan, dan kalian menjaga udaranya…” ujar Doli sambil tersenyum.

“Kau benar, Doli. Dan kita harus menjaga dan menikmati apa yang kita miliki. Sekalipun kami bisa terbang, tetapi kamu tak dapat berenang sepertimu…” kata Cami lagi. Doli mengangguk sambil tersenyum.

“Doli, maukah kau menjadi kawan baik kami. Aku senang punya kawan perenang hebat seprtimu” ungkap Camu.

“Tentu saja kalian temanku yang hebat. Penerbang keren…” ujar Doli lagi. Lalu mereka tertawa bersama-sama. Menikmati keindahan anugerah Tuhan yang luar biasa.

Akhirnya Cami, Camu dan Doli mengerti bahwa setiap anugerah yang diberikan Tuhan kepada makhluk itu sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Menghargai dan menghormati kelebihan diri sendiri dan orang lain adalah tindakan rasa syukur kita terhadap anugerah Tuhan Yang Maha Esa. 

 

*****

  

PENGIRIM    : Kreasi Gragers (Pena Grage Community)

Judul               : Sayap Impian, diambil dari hasil pelatihan DIALOG ESTAFET Pena Grage Community.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: