Salam Beta

SAHABATKU SAUDARAKU

In CERPEN KAWAN_KAWAN on 9 May 2012 at 10:49

 

            WUUUSSS………

            Angin bertiup sangat kencang suaranya yang bercampur dengan hujan begitu menakutkan. Sementara itu pepohonan di tepi jalan meliuk-liuk seperti akan tumbang bahkan payung yang tengah kupegang dengan eratpun terlepas dari genggaman. Dalam sekejap aku telah basah kuyup oleh air hujan yang turun dengan derasnya. Aku berusaha lari untuk meraih payungku tapi rupanya angin terlalu kencang sampai membuatnya terbang ketengah jalan raya. Aku hanya mendesah kecewa saat kulihat sebuah mobil melindas payungku sampai hancur. Tiba-tiba angin berhenti dan membuat keadaan tenang kembali. Aku yang telah terlanjur basah hanya bisa berjalan dengan lemas.

            “Kak, pakai payungku saja,” mendadak terdengar suara dari belakangku.

            Aku menoleh. Seorang anak yang sedikit lebih kecil dariku tampak menyodorkan sebuah payung padaku. Aku menggeleng saat kulihat payung itu adalah payung satu-satunya yang ia bawa. Padahal di punggungnya ada seorang anak kecil yang sedang ia gendong. Kalau aku menerima pinjaman payung darinya pastilah mereka berdua akan basah karena hujan.

            “Ayo, kak, pakai payungku saja,” desaknya lagi saat melihatku hanya terdiam. “Payung kakak tadi terbang dan kelindas mobil, kan.”

            “Nggak usah. Terima kasih,” tolakku halus. “Aku sudah terlanjur basah. Lagian rumahku sudah dekat, kok,” beritahuku kemudian.

            Tapi anak itu tetap memaksaku. Sepertinya ia tidak peduli kalau nanti mereka kehujanan. Akhirnya aku setuju asal ia mau sepayung denganku.

            Sambil berjalan aku mencuri-curi pandang padanya. Aku sama sekali tidak mengenalnya bahkan satu kalipun aku belum pernah melihatnya tapi entah kenapa ia begitu baik mau meminjamkan payungnya padaku.

            Setibaku di rumah aku memintanya untuk masuk. Hujan semakin deras sementara payungnya tidak terlalu besar. Aku tak ingin mereka berdua kedinginan dan jatuh sakit. Apalagi ia berjalan sambil menggendong adiknya pasti ia lelah dan butuh istirahat.

            Setelah beberapa lama menunggu hujanpun berhenti. Sambil mengucapkan terima kasih atas makan siang yang aku sediakan ia meninggalkan rumahku. Aku melambai dan menunggunya sampai mereka menghilang di ujung gang. Ketika aku membalikkan badanku aku melihat payungnya tertinggal di teras rumahku. Buru-buru aku menyambar payung itu dan berlari untuk mengejarnya. Tapi ternyata mereka berdua sudah tak terlihat lagi.

            Akhirnya aku kembali kerumah sambil membawa payung miliknya. Sore nanti aku akan mencarinya di jalan raya tempat kami bertemu siang tadi. Mungkin ada orang yang mengenalnya. Sayang aku tadi tak sempat bertanya alamatnya. Aku hanya tahu namanya Mawar sementara anak kecil yang ia gendong adalah adiknya yang bernama Melati.

*****

            Langit masih mendung ketika aku mencari Mawar dan Melati. Jalanan sudah tampak sepi. Pedagang-pedagang juga mulai membereskan dagangannya. Aku menoleh kekanan dan kekiri mencari-cari sosok Mawar dan Melati. Tapi meski aku telah berjalan sampai ke perempatan tak ada bayangan mereka dimanapun. Lagi-lagi hujan turun. Aku terpaksa berteduh karena tak ingin membuat payung Mawar basah bila aku memakainya. Emperan toko dipenuhi banyak orang. Aku berharap menemukan Mawar dan Melati disana.

            “Tata!”

            Seseorang memanggil sambil menepuk pundakku. Rupanya Fira tetangga dekat rumahku.

            “Kamu dari mana?” tegurnya.

             “Nggak dari mana-mana,” jawabku. “Aku lagi nyari temanku. Soalnya aku mau mengembalikan payungnya,” sambungku sambil menunjukkan payung milik Mawar pada Fira.

            “Memang payung itu punya siapa?” tanya Fira ingin tahu.

            “Punya Mawar. Kamu kenal dia nggak,” ujarku penuh harap.

            Gelengan kepala Fira membuatku kecewa.

            “Eh, nanti dulu,” cetus Fira tiba-tiba. “Sepertinya aku pernah mendengar namanya,” kening Fira berkerut-kerut. “Itu bukannya anak yang suka menggendong-gendong adiknya,” tambahnya lagi.   

            “Iya, betul!” teriakku antusias. “Kamu tahu rumahnya?” desakku tak sabar.

            “Enggak, sih. Tapi Pak Maman pasti tahu karena aku sering melihat Mawar membantunya di warung,” sahut Fira

            “Pak Maman tukang baso itu,” ujarku memastikan.

            Fira mengiyakan. “Yuk, kita kesana sekalian beli basonya. Aku kedinginan banget, nih,” ajaknya.

            “Tapi aku nggak bawa uang,” aku merogoh sakuku yang kosong.

            “Tenang aja, kali ini aku yang traktir,” balas Fira sambil tersenyum senang..

*****

            Dari Pak Maman aku tahu alamat Mawar. Bukan itu saja aku juga akhirnya tahu kalau Mawar setiap hari bekerja menyewakan payung di jalanan dekat rumahku. Aku jadi merasa bersalah karena telah memakai payungnya dengan gratis.

            Sementara Fira bergegas pulang akupun berjalan mencari alamat Mawar. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Tapi karena daerah tersebut belum pernah aku datangi jadi aku agak kesulitan mencarinya. Terlebih lagi daerah rumah Mawar sangat berbeda dengan daerahku. Komplek rumahku semua rumahnya tertata rapi dan bersih. Sementara komplek rumah Mawar begitu padat rumah-rumahnya. Dan kebanyakan tampak kumuh karena letaknya di tepi sungai yang dipenuhi banyak sampah. Bahkan sore ini begitu banyak orang berlalu lalang sampai-sampai membuatku susah berjalan. Berkali-kali aku harus menerobos kerumunan orang yang berbicara dengan ribut di tengah  jalan.  

            Semakin mendekati rumah Mawar semakin banyak orang yang berkerumun. Belum lagi sebagian besar dari mereka bergegas berjalan sambil membawa banyak barang seperti orang mau pindahan. Tiba-tiba aku melihat sekelebat anak yang aku kenal.

            “Mawar! Mawar!” panggilku kencang.

            Mawar yang sedang mengendong adiknya di depan serta memanggul barang-barang dipunggungnya tak mendengar panggilanku..

            Bergegas aku mendekatinya. “Mawar, kamu mau kemana?” tegurku saat sudah berada dihadapannya.

            “Aku mau mengungsi kak,” bisiknya dengan suara gemetar dan bibir membiru.  “Rumahku hanyut terbawa banjir.”           

            “Apa!!! Rumahmu hanyut?” seruku kaget. “Terus, kamu mau ngungsi kemana?” tanyaku iba.

            Mawar menggeleng lemah “Aku tidak tahu kak,” jawabnya lemah.

            Melihat raut wajahnya yang pucat serta tubuh adiknya yang menggigil kedinginan tanpa berpikir panjang lagi aku langsung meminta barang-barang yang berada dipunggungnya. Meski awalnya ia menolak tapi akhirnya Mawar menyerah.

            “Barang-barangku berat kak,” beritahunya tak enak.

            “Tenang, aku kuat kok,” sahutku sambil mengencangkan tali yang melilit punggungku. “Oya, kita kerumahku saja ya,” sambungku lagi.

            Mawar menggeleng. “Aku nggak mau merepotkan kakak. Biar saja kami berteduh di mesjid dekat jalan raya.”

            “Jangan!” protesku tak setuju. “Nanti kalian kedinginan. Lagian di rumahku kan masih ada kamar kosong.”

            “Tapi nanti orang tua kakak marah,” sambung Mawar ketakutan.

             “Nggak mungkin,” jawabku menenangkan. “Aku yakin mereka malah akan senang menerima kedatangan kalian.”

*****

            Benar saja papa dan mama begitu gembira menyambut kedatangan Mawar serta Melati. Hati mereka berubah jadi iba ketika tahu rumah Mawar hanyut terbawa banjir. Hujan deras yang tiada henti telah menyeret rumah mereka sampai hancur. Untunglah saat kejadian itu Mawar dan Melati bisa menyelamatkan diri. Mereka bahkan sempat membawa barang-barang meski hanya yang penting-penting saja. Saat itu ibu Mawar serta Melati sedang bekerja. Ibu mereka berdua bekerja sebagai tukang cuci dan bersih-bersih dirumah-rumah orang yang membutuhkan tenaganya. Setiap hari beliau berangkat pagi dan pulangnya malam. Sedangkan bapak Mawar serta Melati telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.

            Hatiku sungguh tersentuh oleh mereka. Aku baru tahu ada anak-anak yang tidak seberuntung diriku. Disaat aku dan teman-temanku bersekolah juga asyik bermain Mawar terpaksa harus berkerja. Yang membuat aku semakin bersedih ternyata sudah beberapa bulan ini Mawar berhenti sekolah karena ibunya tak mempunyai uang untuk membeli buku serta baju seragamnya.

            Aku tak dapat menahan airmataku sedangkan mata mama dan papa tampak berkaca-kaca mendengar kisah Mawar. Akhirnya malam itu aku minta Mawar dan Melati menginap di rumahku. Sementara papa akan mencari ibu mereka berdua.

            Malam telah larut tapi mataku tak dapat kupejamkan. Aku ingin berbuat sesuatu untuk Mawar dan Melati. Aku tahu aku belum terlalu mengenal mereka dan keluarganya. Tapi aku yakin mereka pasti orang-orang yang baik. Terlebih lagi aku sangat terharu dengan sikap Mawar saat ia meminjamkan payungnya padaku seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. Kali ini giliran aku membalas kebaikannya.

*****

            Hari ini aku sangat bersemangat. Aku tahu apa yang harus kulakukan untuk sahabat-sahabat baruku. Aku semakin senang ketika melihat ibu Mawar dan Melati telah berkumpul bersama mereka. Rupanya sore tadi papa berhasil menemukan beliau.

            “Pa, ma, boleh nggak kalau Mawar, Melati serta ibunya tinggal bersama kita,” pintaku pada mereka saat kami sedang menikmati makan malam bersama.

            Mama menatapku lalu memandang papa. Papa hanya terdiam. Aku jadi gelisah. Aku takut mama dan papa tidak setuju dengan usulku.

            “Pa, kasihan mereka nggak punya rumah lagi. Kalau mereka nggak boleh tinggal bersama kita terus mereka mau tinggal dengan siapa?” pintaku lagi.

            Papa menatapku lama. Membuat aku semakin gelisah. Tiba-tiba sebuah senyuman tersungging dibibirnya. “Tata benar-benar ingin mereka tinggal bersama kita?” tanya papa kemudian.

            Aku mengangguk dengan yakin. “Iya pa,” jawabku sambil menyodorkan buku tabunganku pada papa. “Apalagi kan selama ini aku selalu kesepian karena tidak punya saudara. Kalau mereka disini, aku nggak akan sendirian lagi saat papa dan mama pergi kerja.”

            “Tapi, untuk apa buku tabungan ini, Ta?” papa menatapku dengan bingung.

            “Aku mau Mawar sekolah lagi, pa. Jadi aku mau minta tolong sama papa supaya mengambilkan uang tabunganku,” beritahuku kemudian.

            “Tata,” ujar papa lembut. “Tata nggak usah mikirin uang sekolah Mawar. Mama dan papa barusan sudah bicara dengan ibunya Mawar. Papa dan mama akan menyekolahkan Mawar kembali. Dan mama juga ingin agar ibu Mawar serta Melati bisa membantu kita disini,” sambung papa.

            “Jadi Mawar bisa sekolah lagi?” seruku tak percaya. “Dan…dan…mereka akan tinggal bersama kita?” aku masih tidak percaya.

            Aku memandang Mawar, Melati serta ibunya berganti-ganti. Meski mereka hanya diam tapi mata mereka begitu bercahaya. “Senangnya kalian bisa tinggal disini,” seruku gembira. “Mulai besok kita belajar bersama, ya. Aku ingin kamu bisa mengejar ketinggalanmu.”

            “Iya, kak. Terima kasih kakak mau menerima kami disini. Kami senang sekali,” bisik Mawar tulus.

            Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Segera aku berlari ke kamarku. Kemudian aku menyerahkan sebuah bungkusan yang telah aku persiapkan pada Mawar.

            “Apa ini, kak?” Mawar terkejut dengan pemberianku.

            “Buka saja. Kalau aku kasih tahu ntar nggak seru,” elakku sambil tertawa.

            Perlahan-lahan Mawar membuka bungkusan itu. Matanya terbelalak tak percaya saat menatap isinya. “Te…terima ka…sih kak,’ bisiknya parau sambil memeluk alat-alat tulis serta tas pemberianku. “Kakak baik sekali.”

            Bagiku ucapan terima kasih Mawar sudah lebih dari segalanya. Pemberianku itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan rasa bahagiaku memiliki Mawar dan Melati sebagai sahabat baruku.

            “Nah, besok kita tinggal beli baju seragam serta sepatu buat kamu,” celutukku. “Sebenarnya sih tadi aku mau beli, cuma aku nggak tahu ukurannya. Maaf ya,” ucapku menyesal.

            Mendadak Mawar menangis.

            “Loh, kenapa kamu menangis,” aku jadi ketakutan. “Kamu marah ya karena aku tidak membelikan seragam dan sepatu baru,” sambungku penuh rasa bersalah.

            Mawar menggeleng-gelengkan kepalanya. “Maaf kak. Mawar minta maaf sudah merepotkan kakak. Mawar sangat senang dengan semua pemberian kakak. Mawar hanya nggak enak karena tidak bisa membalas kebaikan kakak. Mawar nggak punya apa-apa buat kakak,” isaknya kencang.

            “Boleh aku minta payung milik kamu kemarin?” tanyaku tiba-tiba.

            “Payung?” kening Mawar berkerut bingung. “Payung itukan sudah jelek kak, lagian….”

            “Tapi aku suka payungmu,” potongku tak mau kalah. “Payungmu mempunyai arti yang sangat dalam bagiku. Berkat payung itu kita jadi bersahabat. Dan aku yang harusnya berterima kasih kepadamu sebab kamu telah menolongku saat aku kehujanan, padahal kita kan nggak saling kenal. Karena payung itu juga aku jadi belajar untuk peduli. Kamulah yang telah membukakan hatiku untuk menolong sesamaku yang tidak beruntung serta ditimpa musibah,” uraiku panjang lebar. “Bagiku payung itu adalah payung persahabatan antara kita. Jadi bolehkan kalau aku menyimpan payungmu,” pintaku lagi.

            Mawar mengangguk. “Iya, kak. Boleh.”

            Terima kasih, Mawar,” ucapku penuh haru. “Aku akan menyimpan payungmu dengan baik. Agar setiap kali melihatnya aku akan mengingat tentang kebaikanmu. Tentang kamu yang mau berbagi padaku meski kita belum saling mengenal. Dan aku ingin mengikuti jejakmu. Aku akan selalu dan selalu berbagi untuk sesamaku yang kekurangan, yang tidak beruntung ataupun sedang tertimpa musibah. Aku ingin bisa berguna untuk yang lain meskipun pertolonganku tidak besar dan sempurna,” janjiku padanya. “Kamu mau menjadi sahabatku kan,” bisikku lirih.

            Mawar mengangguk..

            “Dan menjadi saudaraku?” bisikku lagi.

            Ia terdiam. Tapi sebuah senyuman bahagia tersungging di bibirnya.

            “Terima kasih Mawar,” gumamku penuh haru.

            Sementara mama, papa, Melati serta ibunya menatapku dengan mata berkaca-kaca saat aku memeluk Mawar, sahabatku sekaligus saudara baruku.

           

 

*****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul Karya                 :           Sahabatku, Saudaraku

Nama Penulis              :           Laksita Judith Tabina

Umur                           :           10 tahun

Sekolah                       :           SDN I JARAKSARI WONOSOBO

Kelas                           :           5

Alamat Sekolah           :           Jl. Tosari No.18 Jaraksari – Wonosobo – 56314 Jawa Tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: