Salam Beta

Rumah Baca

“Books are the quietest and most constant of friends; they are the most accessible and wisest of counselors, and the most patient of teachers.“

Charles W. Eliot – The Happy Life ,1896

Dewasa ini, membaca buku merupakan sebuah hal yang langka. Hal ini dipicu oleh harga buku yang kian melangit, keterbatasan akses pada perpustakaan, dan termanjakannya masyarakat oleh perangkat teknologi seperti televisi, handphone, dan internet. Buku yang menjadi pembuka wawasan, sumber pengetahuan, dan pembentuk pola pikir sudah tidak populer lagi. Hal ini bisa jadi beberapa penyebab minimnya kultur membaca di Indonesia. UNDP menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia berada di rangking 96, yang disejajarkan dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Di Asia Tenggara, Indonesia hanya unggul atas Kamboja dan Laos. Penelitian International Education Achievement (IAE) tahun 2000 menunjukkan, dalam hal minat baca, siswa sekolah dasar di Indonesia menduduki peringkat 38 dan siswa sekolah menengah pertama menduduki peringkat 34 dari 39 negara yang diteliti. Nilai tersebut diukur dari kemampuan membaca rata-rata.[1]

Hal ini sangat disayangkan mengingat besarnya manfaat dan pengetahuan yang mampu diperoleh dari kegiatan membaca. Banyak penelitian menunjukkan bahwa minat baca yang rendah mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengembangkan diri. Hal ini berujung pada rendahnya daya saing mereka, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini lah yang menjadi salah satu faktor krusial yang memperlambat perkembangan kualitas sumber daya manusia di Indonesia[2].

Lain halnya dengan sebagian masyarakat yang memiliki minat baca dan belajar yang cukup tinggi, namun tidak memiliki kemampuan untuk membeli buku, mengingat harga buku yang kian melambung tinggi. Ditambah lagi dengan adanya keterbatasan akses dan fasilitas yang ada di daerah mereka. Seperti halnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah yang cukup terpencil, atau masyarakat korban bencana yang desanya hancur berantakan, tentu saja buku menjadi sebuah barang langka dan mahal. Buku tidak hanya menjadi sumber ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana hiburan bagi mereka dan sebuah sarana untuk melihat dunia luar yang jauh dari jangkauan mereka.

Oleh karena itu, komunitas Salam Beta, yang terbentuk dari pertemuan di lokasi bencana Merapi pada akhir tahun 2010, berinisiatif untuk membuat Rumah Baca sebagai program berkelanjutan. Rumah Baca yang didirikan tidak hanya akan berada di daerah korban Merapi, namun juga di berbagai daerah yang membutuhkan.

Sasaran utama rumah baca ini adalah masyarakat di daerah korban bencana Merapi pada akhir tahun 2010 dan daerah yang memang sangat terbatas dalam pemerolehan bahan bacaan. Daerah sasaran pertama adalah Dusun Kajor RT 01 Desa Jrakah, Kelurahan Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dan daerah sasaran kedua adalah Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Dilihat dari lapisan usia, kegiatan-kegiatan rumah baca ini akan berfokus pada anak-anak dan remaja, namun pengadaan buku tetap untuk seluruh lapisan usia.

Rencana kegiatan Rumah Baca Kajor dan Tutup Ngisor bisa dilihat disini dan proposal yang memuat lebih lengkap tentang kegiatan rumah baca bisa di download di sini.


[1] http://www.beritajatim.com/detailnews.php/2/Gaya%20Hidup/2010-05-01/62705/ (Diakses Sabtu, 11 Desember 2010, jam 10:35 WIB)

[2]Budaya Baca Indonesia Terendah di Asia Timur, http://edukasi.kompas.com/read/2009/06/18/02590466/Budaya.Baca.Indonesia.Terendah.di.Asia.Timur. Diakses (Rabu, 9 Juni 2010,  jam 20: 25 WIB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: